Selamat datang.............!!!!/b>

Sabtu, 25 September 2010

Perencanaan, pembinaan dan pengembangan bahasa, bentuk-bentuk usaha kegiatan penggunaan bahasa, hambatan-hambatan dalam usaha pembinaan bahasa serta solusi atas hambatan pembinaan dan penilaian bahasa.

Pihak perencanaan bahasa dapat berupa badan pemerintah yang resmi yang secara khusus ditugasi mengembangkan dan memajukan bahasa dan pemakaian, atau pihak diluar pemerintah yang baik secara berkelompok maupun secara perorangan berperan dalam perencanaan pengembangan atau penggunaan bahasa sesudah proklamasi kemerdekaan pemerintah RI membentuk Panitia Pekerja Bahasa Indonesia pada tahun 1947 untuk mengembangkan peristilahan, menyusun tata bahasa sekolah, dan mempersiapkan kamus baru untuk keperluan pelajaran bahasa indonesia disekolah.

Disamping itu, diterbitkan pada tahun 1901 kitab logat melajoe , sebuah daftar kata menurut ejaan yang di anggapnya baku yang diterbitkan oleh Van Ophuijsen yang pernah jadi inspektur sekolah melayu di Sumatra, menyusun rencana ejaan bahasa melayu  dengan huruf arab dan latin,yang masing-masing terbit pada tahun 1882 dan 1902. Buku tersebut menjadi buku pegangan yang banyak dipakai orang dalam meningkatkan pengembangan bahasa.

Jika dipandang dari jurusan khalayak sasaran, perencanaan dan pembinaan bahasa dapat di arahkan kepada golongan penutur asliatau yang bukan penutur asli, kepada orang yang masih bersekolah ataukepada orang dewasa, kepada kaum guru di berbagai tingkat persekolahan , kepada kalangan komunikasi media massa seperti majalah, penyiar dan pewara (berita), kepada khalayak di bidang industri, perniagaan, penerbitan, dan perpustakaan dan mungkin juga kepada lingkungan sastrawan. Penentuan aspek seni bahasa dan khalayak sasaran denngan cermat sebelumnya berpengaruh terhadap penentuan apakah rencana itu berjangka pendek atau berjangka panjang.

Adapun kelemahan  dan kendala yang sering disebut selama ini dan belum seluruhnya dapat di atasi hingga saat ini adalah :

1.      Dari segi bahasa

Terlihat bahwa pembakuan ejaan, kosa kata dan istilah serta tata bahasa yang selama ini agaknya masih mengandung kelemahan sebagai bahasa baku, terutama masalah relevansinya dengan kebutuhan warga masyarakat indonesia dan kebututhan pembangunan.

2.      Dari segi warga pemakai bahasa indonesia

Sikap sebagian besar warga rakyat indonesia yang bangga menggunakan bahasa asing, terutama bahasa inggris, tetapi kurang bangga menggunakan bahasa indonesia merupakan kelemahan dalam pengimplementasian hasil-hasil pembakuan bahasa indonesia selama ini.

3.      Dari segi pelaksana

Status dan wibawa Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa hingga sekarang masih mengandung berbagai kelemahan sebagai pusat nasional pembinaan dan pengembangan bahasa di indonesia pada umumnya dan pembakuan bahsa indonesia pada khususnya, terutama dalam masalah pemerataan kegiatan dan hasil kegiatan pembinaan dan pengembangan bahasa serta dalam hal pengelolaan tenaga dan sumber daya lain.

4.      Dari  segi proses perencanaan bahasa

Proses perencanaan pembakuan bahasa indonesia agaknya masih mengandung kelemahan dalam hal pengawasan, penilaian, dan pengukuhan.

5.      Dari segi ketenagaan

Masih sedikit tenaga ahli yang terlibat dalam kegiatan pembinaan dan pengembangan dan atau pembakuan bahasa indonesia yang benar-benar ahli dan profesional dalam bidang yang di tugaskan padanya.

 Karena itu, agar hasil pembakuan bahasa dapat mencapai sasarannya, perencanaan penyusunannya harus di perinci berdasarkan klasifikasi cabang ilmu yang cermat ( Moeliyono 1978 ) perencanaan jangka waktu, pada gilirannya, mempengaruhi kesediaan pemberi dana yang harus membiayai proses pengembangan dan pembinaan bahasa selama ke tiga tahapnya. Jika badan perencanaan kebahasan berfungsi didalam rangka pembangunan nasional dan berwenang mengadakan kerja sama yang terpadu dengan instansi pemerintah yang lain, maka perencanaan bahasa itu akan bertambah dimensinya dengan misalnya, perencanaan penyusunan kurikulum pengajaran bahasa, penyusunan buku pelajaran bahasa, pengadaan guru bahasa, atau penataran guru bahasa, supaya mampu mengajarkan hasil kodifikasi yang baru disekolah. Kitapun dapat merencanakan pembinaan pemakaian bahasa di bidang penyuluhan dan pengajaran bahasa.

Walaupun usaha pembakuan bahasa terutama ditujukan pada ragam bahasa tulisan, pembinaan bahasa dalam arti penyebaran wilayah pemakaiannya menyangkut kedua jenis ragam itu yaitu ragam tulisan dan ragam lisan. Lagi pula, pembinaan berencana bahasa kebangsaan diantara golongan masyarakat latar budaya dan tingkat keberaksaraannya berbeda-beda harus memperhitungkan pilihan antara ragam tulisan dam ragam lisan.pelapisan jenjang pendidikan pada tingkat dasar, menengah, dan tinggi yang ada merupakan variabel pula dalam penyusunan rencana pengembangan dan pembinaan bahasa.

Seandainya dalam pembinaan bahasa, yang termasuk tugas badan pembinaan dan pengembangan bahasa, juga dimasukan masalah pengajaran bahasa, maka dalam tarafpelaksanaan juga akan dilakukan kegiatan yang berkenaan dengan pengembangan kurikulum pengajaran bahasa, penyusunan buku pelajaran bahasa yang bertingkat-tingkat, dan mungkin juga pedoman terjemahan jika ada program penerjemahan yang direncanakan pada akala besar. Jika penelitian pengajaran bahasa, atau pengelolaannya ada di tangan berbagai pihak, maka demi keserasian pembinaan bahasa, badan pengembang dan pembina bahasa harus berusaha agar sekurang-kurangnya ada kerja sama sehingga, para penyusun buku pelajaran mau menggunakan istilah-istilah yang sudah disahkan oleh badan tersebut.

Tolok yang harus dicontoh itu terdiri atas dua jenis yakni ragam lisan dan tulisan. Tolok yang pertama diwujudkan oleh penutur teladan, sedangkan tolok yang kedua diperoleh di dalam berbagai ragam wacana. Kedua arus tersebut pengaruh-mempengaruhisehingga mungkin terjadi persaingan antara kata, istilah, frase atau ungkapan yang dihasilkan oleh kedua sumber tersebut. di dalam persaingan itulah sikap media massa sebagai penyalur sering menentukan nasib bentuk-bentuk bahasa yang baru. Jika unsur itu diterima oleh media massa, maka bentuk itu mendapat peluang besar untuk berpadu kedalam korpus bahasa, jika tidak maka bentuk itu akan hilang dari pemakaian umum selang beberapa waktu.

 Oleh Karena itu, perencanaan dan pembinaan bahasa sepatutnya didasari oleh pengenalan tata nilai yang hidup di dalam masyarakat, sikap orang terhadap bahasa yang direncanakan pengembangan dan dan pembinaannya, dan ganjaran yang dapat diberikan jika orang mau menerima hasil kodifikasi dan menggunakannya dalam hidupnya setiap hari.

Keadaan ekonomi dari sudut pandangan perbedaan tingkat kelas sosial, perbedaan kawasan yang mudah dan yang sukar dicapai oleh alat angkutan, serta perbedaan antara golongan penduduk yang mobil dan statis akan mempengaruhi kadar lajunya tahap perencanaan dan pengembangan bahasa. Tingkat penguasaan bahasa baku yang tinggi misalnya, akan sukar dicapai oleh orang yang tinggal didaerah terpencil dan yang tidak mampu membeli buku pegengan yang dihasilkan (Sibayan 1978).

Pentingnya survai sosiolinguistik di dalam pengumpulan data untuk perencanaan bahasa tidak perlu disangsikan lagi. Hal itu khususnya berlaku jika survai itu dimaksudkan untuk mempengaruhi putusan yang menyangkut garis haluan resmi pemerintah para pejabat di dalam hal ini harus ikut dalam proses penetapan sasaran, pencarian dana, dan penarikan tenaga.

Berdasarkan identifikasi masalah dan dengan bertumpu pada analisis data sosiolinguistik yang telah tersebut di atas kemudian ditentukan garis haluan atau kebijakan yang akan dianut dibidang pengembangan atau pun perencanaan bahasa sehingga dapat menghasilkan suatu perencanaan bahasa yang sesuai dengan konteks budaya serta menyesuaikan dengan keberagaman budaya nasional yang selama ini ada di indonesia serta dapat menyatukan perbedaan-perbedaan budaya menjadi suatu kesatuan yang utuh.































LEGENDANO I KONAWEEHA ANO LAASOLO

I KONAWE EHA ANO LAASOLO





Tepohae`aro aalaano konaweeha ronga laasolo o`aso ikaa mataobu e uluno mata tepoweaki aro laa-laa toro aso mbu`u munde male. Kenondee motonda wuano, aso samba motonda I aalaano konawe`eha, aso samba motonda I aalaano laasolo. O aso tembo lakoroto mekini. Laa iroto mekini ao pesambepe, ro`onhho tudu itahi meoti-oti. Te`eni ito laasol, “Auki pera konawe`eha merare lako ?” tumotaha`i konawe`eha te`eni , “maa ato lakopo ona”.

Te`eni ito hae laasolo , “maanggote`ipia ato lako ?” Tumotaha ito konawe`eha “ mohina mo`oru-oru. Tepokukunoikaa roroma no po`iso, iyee konawe`eha to`oto nopo`iso, ari ito hae lako mombepae-pae mbele`esu. Iyeeto aalaano konawe`eha ano molinde laa ipo moowai sauna konawe`eha iwawono po`ahara, iyepo ano tekokoni laasolo lau-lau pewangusako, nopoehaito laandundu sanuano konawe`eha. mberanoto mosa`a untno laasolo. Ano amba pili`i konawe`eha opitu o`osu ni lombano iyepo ano telua itahi. Iyeto ano konggorilaa aalaano laasolo. Noleumina`u lua itahi menggau ito konawe`eha laa melinde-linde. Pinebuangako ari opitu o`osu nilombano laasolo noluarakokee opitu o`osu sala o`asono iyeto Lalengki.






TERJEMAHAN


LEGENDA KALI KONAWE EHA dan KALI LAASOLO



Kali Konawe`eha dan kali Laasolo bersumber dari sebuah mata air, lalu keduanya mengalir menuju kelaut. Pada kedua hulu, kedua kali itu tumbuh sebuah pohon lemon besar, tidak jauh dari sumber mata airnya. Bila buh lemon sudah masak dan berjatuhan, sebagian jatuh dikali Konawe`eha dan sebagian jatuh dikali Laasolo. Dari alkisah itulah, suatu ketika keduanya saling mencari kutu di kepala. Pada waktu itu terjadilah suatu perundingan untuk keluar menuju laut mencari kerang dan siput di pesisir pantai. Berkatalah Laasolo kepada Konawe`eha, “ Dapatkah engkau Konawe`eha berjalan cepat?” Konawe`eha menjawab, “ Nanti kita coba jalan.”

Berkata lagi Laasolo, “Kalau demikian kapan kita berangkat?” menjawab Konawe`eha, “ Besok pagi.” Laasolo rupanya tertipu. Ketika malam baru tiba ia langsung tertidur dengan pulasnya. Akan tetapi, Konawe`eha mempunyai akal. Begitu malam tiba, ia tidak tidur, tetapi langsung memukai perjalanannya. Itulah sebabnya air kali Konawe`eha arusnya tampak tenang. Ttatkala Konawe`eha menembusi gunung membuat air terjun di atas pohara, Laasolo baru terjaga dari tidurnya, ternyata kali Konawe`eha sudah lama berangkat.

Sementara itu terdengarlah olehnya bentuman batu-batu gunung yang berjatuhan akibat terobosan kali Konawe`eha yang sedang membuat air terjun sehingga menimbulkan amarah bagi Laasolo. Dengan sekuat tenaga, kali Laasolo berusaha mengejar kali Konawe`eha, dengan meluruskan jalannya sekalipun harus menembus tujuh buah gunung baru dapat tiba di tepi pantai. Itulah sebabnya sehingga air kali Laasolo arusnya lebih deras daripada kali Konawe`eha. Hasil pengikisan tanah dari tujuh gunung yang ditenbusinya didorong terus hingga ke laut dan terjadilah beberapa gunung dekat menaranya, di antaranya pulau Labengki.











MANTRA TOLAKI



1. Mantra mo`indi Dalo nio wo`ohu

Aaso ruo tolu omba Aku indiko

Auwaraka mendidoha

Aumorini ronga monapa

Morini mbu`u mbundi, monapa mbu`u ndawaro

Auwaraka mendidohan aumelaindoro, umendaa umuru


2. Mantra mondarai O`usa

Wuheee………..

Ku onggo pupuriko, tumupasiko,

Au pekaleako ronha mekakasako

Au pesaki ako aasaki ndahi


3. Mantra mondarai Onitu

Wuheee…………

Imbesireako, mbediu ako

Kionggo telalo, iamo ikokorunggomami

Ronga kumekebai komami

Inggoniu motu`o, inggami ohai






TEKA-TEKI TOLAKI



Teka-teki dalam bahasa Tolaki biasa disebut dengan Singguru. Dimana Singguru ini sering digunakan oleh orang-orang yang sedang menuai padi pada zaman dahulu. Namun pada saat sekarang ini Singguru-singguru tersebut mengalani kepudaran akibat prkembangan zaman, dan hampir punah karena masyarakat suku Tolaki sudah jarang bahkan sampai tidak pernah lagi mengucapkan Singguru-singguru tersebut.



1. Tiringgidi laamune mbule haa-haano (Mosekepi lako tewuta)

Terbirit-birit kesana pulang pelan-pelan (Kepepet buang air besar )

2. O`omba kareno mano okino pelimba (Omeda)

Empat kakinya tapi tidak berjalan (Meja)

3. Tuko-tukono idoodi taapinoko doa (Ousa)

Tongkat-tongkatnya si Doodi tidak terhitung (Hujan)

4. Kuro-kurono idoodi mo`isa ronga eleo (Odongi)

Periuk-periuknya si Doodi jatuh bersama matahari (Buah jongi)

5. Olimo wula nolako ano amba leu te asoruo ikaa seuno (Opae)

Lima bulan mengembara tetapi pulang hanya satu dua jarumnya (Padi)

6. Ole-oleo momua, owingi petuhai (Osonggo)

Siang hari bertengger malam hari turunnya (Peci)

7. Kuro-kurono idoodi tonda ronga ulo (Pololi)

Periuk-periuknya si Doodi jatuh bersama penutup (Kayu pololi)

8. Ukaa`I no kaako (Osaha)

Kamu memakannya dia blik menggigit (Lombo/cabe)

9. Tetoro kiniku lako lalo loono (Okela)

Berhenti kerbaunya jalan terus talinya (Labu)

10. Mbele`esu opoo mberembui kandole (Anamanu ronga inano)

Jalan duluan pocong belakangan kuntilanak (Anak ayam dan induknya)

11. O`aso tusano oruo wowa tambono (Oenge)

Satu tiangnya tapi dua pintunya (Hidung)

12. Inano tinema-tema anano meopolaha monggaa (Pana api)

Induklnya ditimang-timang anaknya mencari makan (Senapan)

13. Iwoi laandoe taa sinuano opua (Iwoi nggaluku)

Air diudara tidak menemukan air (Air kelapa)

14. Manu-manu momea moia itado horo (Tai niwule)

Burung-burung merah tinggal dibawah lantai (Sisa makan sirih)

15. Ukii`I merambi au amba lako mondae (Ogawu)

Dilihat dekat tapi didekati menjauh (Kabut)

16. Upeaikee nopeaniko`o (Mondonduri)

Kamu menariknya dia balik menarikmu (Memancing)

17. Asondari kaluku lumolo`I dunia (Owula)

Seiris kelapa keliling dunia (Bulan sabit)

18. Melimbako melimba`I (Raoa)

Kamu berjalan dia mengikut (Bayangan)

19. Inggo`o wuli`I inaki kumii`I (Mototao)

Kamu yang buka saya yang lihat (Tertawa)

20. Ipu`uno owuta itongano okasu imumuno owuta (Otete)

Dipangkalnya tanah ditengahnya kayu dipuncaknya tanah (Jembatan)

21. Pesinggotekona aku pewiso (Osisi)

Renggangkan saya masuk (Cincin)

22. Moisa iloluno nlolaha`I wawono (Okilo)

Jatuhnya kebawah tapi dicarinya diatas (Timbangan)

23. Opitu aahua o`aso ikaa ininu (Osuli)

Tujuh liang sumur hanya satu yang diminum (Suling)

24. Ato watu horo watu (Kolopua)

Atap batu lantai batu (Kura-kura)

25. Leu`I tumoko mane`I mbulaika (Lasandumoko)

Datang menumpang malah membunuh tuan rumah (Benalu)

26. Kiniku wila merano ine ranoku wila (Obonggo)

Kerbau putih berkubang dikubangan putih (Bengkuang)

27. Tambuoki padeno mano melaika watu (Oane)

Tidak punya parang tapi berumah batu (Rayap)

28. Ipu`uno oue itongano owuta imumuno kaluku (Kurowuta)

Dipangkalnya rotan ditengahnya tanah dipuncaknya kelapa (Periuk tanah)

29. Tolewa dumodapa meolo sambanggae (Osowi)

Kupu-kupu merayap diantara jari-jari (Ani-ani/pemotong padi)

30. O omba kiniku merano o aso metotoa (Mekunggu)

Empat kerbau berkubang satu mengawasi (Mengepal)